Just another WordPress.com site

RETARDASI MENTAL

  1. A.    DEFINISI

Terdapat berbagai macam definisi mengenai retardasi mental,menurut:

  • WHO

Retardasi mental yaitu kemampuan mental yang tidak mencukupi.

  • Carter CH

Retardasi mental yaitu suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidak mampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang di anggap normal.

  • Crocker AC

Retardasi mental yaitu apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah,yang di sertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku,dan gejalanya timbul pada masa perkembangan.

  • Melly Budhiman

Seseorang di katakan retardasi mental bila memenuhi criteria sebagai berikut:

ü  Fungsi intelektual umum di bawah normal

ü  Terdapat kendala dalam perilaku adaptif social

ü  Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu di bawah usia 18 tahun.

 

  1. B.     ETIOLOGI

Organik                                                                                                                

  1. Faktor prekonsepsi : kelainan kromosom (trisomi 21/Down syndrome dan Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan neurocutaneos, dll.)
  2.  Faktor prenatal : kelainan petumbuhan otak selama kehamilan    (infeksi, zat teratogen dan toxin, disfungsi plasenta)
  3. Faktor perinatal : prematuritas, perdarahan intrakranial, asphyxia neonatorum, Meningitis, Kelainan metabolik:hipoglikemia, hiperbilirubinemia,  dll
  4. Faktor postnatal : infeksi, trauma, gangguan metabolik/hipoglikemia, malnutrisi, CVA (Cerebrovascularaccident), Anoksia, misalnya tenggelam

Non organik

  1. Kemiskinan dan klg tidak harmonis
  2. Sosial kultural
  3. Interaksi anak kurang
  4. Penelantaran anak

Faktor lain : Keturunan; pengaruh lingkungan dan kelainan mental lain

 

  1. C.    PATOFISIOLOGI

Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-hari. Retardasi mental ini termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak ( sebelum usia 18 tahun ) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal ( IQ 70 sampai 75 atau kurang ) dan disertai keterbatasan-keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi adaftif : berbicara dan berbahasa, kemampuan/ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, bersantai dan bekerja.        

Penyebab retardasi mental bisa digolongkan kedalam prenatal, perinatal dan pasca natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada masa kanak-kanak.

 

  1. D.    MANIFESTASI KLINIS

Dibawah ini beberapa kelaianan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental, yaitu :

  1. Kelainan pada mata
  2. Kejang
  3. Kelainan kulit
  4. Kelainan rambut
  5. Kepala   
  6. Perawakan pendek
  7. Distonia

 

 

 

 

Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah sebagai berikut:

1. Retardasi mental ringan

Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental. Kebanyakan dari mereka ini termasuk dari tipe social-budaya dan diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini termasuk mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan bias bisa sampai kelas 4-6 SD, juga bisa dilatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal. Tetapi pada umumnya mereka ini kurang mampu menghadapi stress sehingga tetap membutuhkan bimbingan dari keluarganya.

2. Retardasi mental sedang

Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi mental, mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas dua SD saja, tetapi dapat dilatih menguasai suatu keterampilan tertentu, misalnya pertukangan, pertanian, dll. Apabila bekerja nanti mereka ini perlu pengawasan. Mereka juga perlu dilatih bagaimana mengurus diri sendiri. Kelompok ini juga kurang kurang mampu menghadapi stress dan kurang mandiri sehingga perlu bimbingan dan pengawasan.

3. Retardasi mental berat

Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk kelompok ini. Diagnosis mudah ditegakkan secara dini karena selain adanya gejala fisik yang menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang tua dimana anak sejak awal sudah terdapat keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa. Kelompok ini termasuk tipe klinik. Mereka dapat dilatih hygiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana, tidak dapat dilatih keterampilan kerja, dan memerlukan pengawasan dan bimbingan sepanjang hidupnya.

4. Retardasi mental sangat berat

Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk dalam tipe klinik. Diagnosis dini mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat jelas. Kemampuan berbahasanya sangat minimal. Mereka ini seluruh hidupnya tergantung orang disekitarnya.

 

 

 

  1. E.     KLASIFIKASI

Menurut nilai IQ-nya, maka intelegensi seseorang dapat digolongkan sebagai berikut (dikutip dari Swaiman 1989):

Nilai IQ

Sangatsuperior 130 atau lebih

Superior 120-129

Diatas rata-rata 110-119

Rata-rata 90-110

Dibawah rata-rata 80-89

Retardasi mental borderline 70-79

Retardasi mental ringan (mampu didik) 52-69

Retardasi mental sedang (mampu latih ) 36-51

Retardasi mental berat 20-35

Retardasi mental sangat berat dibawah 20

Yang disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidupnya.

 

  1. F.     KOMPLIKASI
    1. Serebral palcy
    2. Gangguan kejang
    3. Gangguan kejiwaan
    4. Gangguan konsentrasi /hiperaktif
    5. Defisit komunikasi
    6. Konstipasi

 

  1. G.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak yang menderita retardasi mental, yaitu (Shonkoff JP, 1992):

  1. Kromosomal kariotipe
  2. EEG (Elektro Ensefalogram)
  3. CT (Cranial Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)
  4. Titer virus untuk infeksi congenital
  5. Serum asam urat (Uric acid serum)
  6. Uji intelegensi standar ( stanford binet, weschler, Bayley Scales of infant development )
  7. Uji perkembangan seperti DDST II
  8. Pengukuran fungsi adaftif ( Vineland adaftive behaviour scales,v Woodcock-Johnson Scales of independent Behaviour, School edition of the adaptive behaviour scales ).

 

  1. H.    PENATALAKSANAAN
    1. Psikostimulan untuk anak yang menunjukkan gangguan konsentrasi/hiperaktif
    2. Obat Psikotropika (untuk anak dengan perilaku yg membahayakan diri)
    3. Antidepresan, dll
    4.  Rehabilitasi
  • Pendidikandanlatihan : Dimasukkanke SLB untuk RM ringandansedang
  • Perawatandalampantiperawatan
  • Rehabilitasikerja
  • Penerimaananak agar merasaberarti : Penolakan anak meyebabkan frustasi, murung, benci, nakal, dll
  1. Pencegahan
  • Imunisasibagianakdanibu  sebelumkehamilan
  • Konselingperkawinan
  • Pemeriksaankehamilanrutin
  • Nutrisi yang baik
  • Persalinanolehtenagakesehatan
  • Memperbaikisanitasidangiziklg
  • Pendidikankesehatanmengenaipolahidupsehat
  • Program mengentaskankemiskinan, dll

 

  1. I.       ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

Data demografi, Identitas Klien, Identitas Orang tua, Riwayat Kesehatan

 Tanda dan gejala :

  • Mengenali  sindrom seperti adanya mikrosepali
  •  Adanya kegagalan perkembangan yang merupakan indikator     RM seperti anak RM berat biasanya mengalami kegagalan perkembangan pada tahun pertama kehidupannya, terutama psikomotor; RM sedang memperlihatkan penundaan pada kemampuan bahasa dan bicara, dengan kemampuan motorik normal-lambat, biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun; RM ringan  biasanya terjadi pada usia sekolah  dengan memperlihatkan kegagalan anak untuk mencapai kinerja yang diharapkan.
  • Gangguan neurologis yang progresif
  • Tingkatan/klasifikasi RM (APA dan Kaplan; Sadock dan Grebb, 1994)

Pemeriksaan fisik :

  • Kepala  : Mikro/makrosepali, plagiosepali (bentuk kepala tidak simetris)
  • Rambut : Pusar ganda, rambut jarang/ tidak ada, halus, mudah putus dan cepat berubah
  • Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll
  • Hidung : jembatan/punggung hidung mendatar, ukuran kecil, cuping melengkung keatas, dll
  • Mulut : bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas, langit-langit lebar/ melengkung tinggi
  • Geligi : odontogenesis yang tidak normal
  • Telinga : keduanya letak rendah; dll
  • Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia
  • Leher : pendek; tidak mempunyai kemampuan gerak sempurna
  • Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibu jari gemuk dan lebar, klinodaktil, dll
  • Dada & Abdomen : terdapat beberapa putting, buncit, dll
  • Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll
  • Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap/ panjang kecil meruncing diujungnya, lebar, besar, gemuk.

 

DIAGNOSIS KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL:

  1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d kelainan fungsi Kognitif
  2. Kerusakan komunikasi verbal b/d lambatnya keterampilan ekspresi dan resepsi bahasa.
  3. Risiko cedera b/d perilaku agresif/ koordinasi gerak tidak terkontrol
  4. Gangguan interaksi sosial b/d kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial
  5. Gangguan proses keluarga b/d memiliki anak RM
  6. Defisit perawatan diri: makan, mandi, berpakaian/ berhias, toileting b/d ketidakmampuan fisik dan mental/ kurangnya kematangan perkembangan.

 

INTERVENSI :

  1. Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak
  2. Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal.
  3. Berikan perawatan yang konsisten
  4. Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
  5. Berikan intruksi berulang dan sederhana
  6. Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
  7. Dorong anak melakukan perawatan sendiri
  8. Manajemen perilaku anak yang sulit
  9. Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
  10. Ciptakan lingkungan yang aman

  

PENDIDIKAN PADA ORANGTUA :

  1. Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
  2. Dukung keterlibatan orangtua dalam perawatan anak
  3. Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
  4. Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok, dll

 

EVALUASI

  • Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya.
  • Dapat berkomunikasi dengan baik sesuai usia.
  • Perilaku dan pola hidup anak jauh dari risiko cidera.
  • Anak berpartisipasi dalam aktivitas bersama anak-anak dan keluarga lain.
  • Keluarga menunjukkan pemahaman tentang penyakit anak dan terapinya.
  • Anak melakukan perawatan diri sesuai tingkat usia dan perkembangan

pengkajian keluarga

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA

 

 

  1. I.      Data Umum
    1. Nama Kepala Keluarga     :    Tn.R
    2. Usia                                   :   28 Tahun
    3. Pekerjaan KK                   :   Wiraswasta
    4. Pendidikan KK                 :    SMA
    5. Alamat dan Telepon          :  Jl.Kapten Tantawi No.34 Kel. Bodi Air Tabit  Payakumbuh Timur
      1. Komposisi Keluarga

NO

Nama

JK

Hub dg KK

Umur

Pekerjaan

Status Imunisasi

Ket

BCG

Polio

Hepatitis

DPT

Campak

1

2

3

4

1

2

3

1

2

3

1.

2.

 

 

 

Ny.R

By. B

P

L

Istri

Anak

24 th

3 hari

Ibu RT

P

P

P

P

P

P

P

P

P

P

P

P

P

 

 

 

 

Genogram

 

                                   
     
       
       

 

 

         
       

 

 

   

 

 

 

 

 

 
 
 
 
   
 
 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 


Keterangan:

            = laki-laki                                  

 
   

 


            = perempuan

 

            = menikah

                        = meninggal

 

               = tinggal dalam satu rumah

               
             
 
   

 


                  : Identifikasi Klien

             

                 : Identifikasi klien

 

 

7. Tipe keluarga

Tipe Keluarga Ny. R adalah tipe keluarga inti / Nuclear Family. Keluarga Tn. R terdiri dari Tn.R, Ny.R dan anak pertamanya yang baru lahir (By.B).

 

8. Suku bangsa

Tn.R dan Klien Ny.R bersuku minang (Tn.R bersuku Dendang  dan  Ny. R bersuku Pitopang). Keluarga Ny.R suka makan – makanan yang pedas, berminyak dan bersantan. Keluarga mengonsumsi sayur setiap makan dan hanya sesekali mengonsumsi buah-buahan. Kebiasaan sehari-hari keluarga Ny.R masih dipengaruhi oleh budaya di daerah tempat tinggalnya, misalnya: selama hamil Ny.R tidak boleh memakai jilbab yang dililitkan pada leher, tidak boleh duduk di depan pintu, dan setelah melahirkan Ny.R tidak boleh memakan telur dan makanan sejenisnya yang dapat menimbulkan gatal, tidak boleh makan- makanan yang pedas, bersantan, tidak boleh makan daging dan nangka karena itu akan membuat perut anaknya sakit.

 

 

9. Agama

Keluarga Ny.R beragama Islam, biasanya keluarga melakukan sholat 5 waktu di rumah dan jarang sholat berjamaah dimesjid atau musholla. Ny.R mengatakan ia tidak aktif di dalam kegiatan pengajian di musholla karena sebelumnya Ny.R sibuk dengan kuliahnya dan sekarang ia sibuk mengurus bayinya yang baru lahir.

Menurut Ny.R semua penyakit adalah takdir yang digariskan oleh Allah tetapi sebagai manusia terus berusaha untuk mencapai kesembuhan. Tidak ada nilai- nilai keyakinan yang bertentangan dengan kesehatan. 

 

10.Status Sosial Ekonomi

Menurut Ny.R pendapatan keluarganya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ny.R mengatakan juga memiliki tabungan wajib setiap harinya yaitu Rp50.000/hari. Pendapatan Tn.R ± Rp2.000.000-Rp3.000.000/bulan. Kebutuhan yang dikeluarkan meliputi pengeluaran untuk kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah dengan adanya anggota baru yang baru lahir di keluarga Tn.R, yaitu biaya membeli susu dan kebutuhan lainnya, listrik, air. Keluarga mempunyai TV,radio, kendaraan roda dua.

 

11. Aktivitas rekreasi keluarga

Biasanya keluarga menonton TV bersama pada saat malam hari, sambil menonton keluarga saling bercerita dan sharing jika sedang menghadapi suatu masalah. Setiap akhir minggu biasanya Ny.R bersama suami mengunjungi rumah mertuanya dan jalan – jalan keliling kota payakumbuh. 

 

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

 

12. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Ny.R dan Tn.R menikah pada akhir tahun 2010 dan sekarang sudah di anugerahi seorang bayi yang berumur 3 hari. Saat ini keluarga masuk pada tahap keluarga childbearing dengan tugas perkembangan sebagai berikut:

  1. Persiapan menjadi orangtua
  2. Membagi peran & tanggung jawab
  3. Menata ruang untuk anak, mengembangkan suasana rumah yang menyenangkan
  4. Mempersiapkan dana Child Bearing
  5. Memfasilitasi role learning anggota keluarga
  6. Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi – balita
  7. Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin

 

13. Tahap Perkembangan Keluarga yang belum terpenuhi 

Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi yaitu persiapan menjadi orangtua dan menata ruang untuk anak serta mengembangkan suasana rumah yang menyenangkan. Ny.R belum siap untuk mempunyai seorang anak dan memikul tanggung jawab sebagai ibu. Hal ini disebabkan karena Ny.R masih kuliah dan ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Karena sibuk dengan perkuliahannya, Ny.R belum sempat menata ruang untuk anaknya. Saat pengkajian tampak suasana rumah Ny.R kurang menyenangkan untuk bayi karena atap rumah Ny.R bocor di beberapa titik sehingga kalau hujan, lantai rumah menjadi basah.

14. Riwayat Keluarga Inti 

Tn.R sudah 11 bulan menikah dengan Ny.R, mereka menikah akhir tahun 2010 dengan lama pacaran ± 6 tahun. Tn.R menikah umur 27 tahun dan Ny.R umur 24 tahun. Ny.R berpacaran semenjak ia SMA.

Pada saat ini riwayat kehatan keluarga adalah sebagai berikut:

  • Tn.R  pada saat pengkajian tidak memiliki keluhan kesehatan
  • Ny.R pada saat pengkajian mengeluhkan jahitan bekas vakum nya terasa sakit dan ia juga mengeluhkan ASI nya tidak keluar karena puting susu Ny.R tampak terbenam.
  • By.B pada saat pengkajian terlihat kuning karena sedikit mendapatkan ASI, untuk itu Ny.R memberikan susu formula sebagai PASI. 

 

15. Riwayat Keluarga Sebelumnya

  • Riwayat keluarga dari pihak suami: Ayah Tn.R tidak pernah mengalami penyakit yang serius, beliau hanya mengalami penurunan status kesehatan karena proses menua. Ibu Tn.R menderita hipertensi sejak satu tahun yang lalu dan kolesterolnya tinggi.
  • Riwayat keluarga dari pihak istri : Ayah dan Ibu dari Ny.R tiadak ada menderita penyakit yang serius.

 

III. Pengkajian Lingkungan

 

16. Karakteristik Rumah

Rumah Tn.R dan Ny. R adalah  rumah permanen dan merupakan rumah milik Ibu dari Ny.R.  Rumah terdiri dari  3 kamar tidur, ruang tamu , ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi. Penataan perabotan dalam rumah Ny.R tidak begitu rapi karena Ny.R belum sanggup membereskan rumah paska melahirkan, ventilasi dan penerangan inadekuat, lantai terbuat semen dan saat hujan lantai terasa licin akibat atap rumah yang bocor di beberapa titik, tembok permanen, kuat dan dapat melindungi suhu dingin maupun gangguan keamanan yang lainnya. Ventilasi dan penerangan ketiga kamar tidur inadekuat. Biasanya Ny.R membuang sampah di sungai.

Peralatan mandi lengkap dan setiap anggota keluarga memiliki peralatan mandi sendiri, bak mandi sudak tidak dipakai lagi karena bocor, untuk itu digunakan ember untuk menampung air. Terdapat banyak kain bergelantungan di pintu kamar mandi. Di rumah Ny.R tidak terdapat binatang peliharaan, karena Ny.R memang tidak suka hal- hal seperti itu. Saat pengkajian banyak terdapat nyamuk di rumah Ny.R.

Ny.R kurang nyaman tinggal di rumah tersebut karena beberapa hal yang telah diuraikan di atas. Namun, menurut Ny.R lingkungan tempat tinggalnya cukup aman dari resiko ancaman criminal karena rumah di sekeliling tempat tinggal Ny.R di tempati oleh kakak dan tantenya. Kakak Ny.R lah yang membantu dalam merawat By.B.

 

Denah Rumah

 
   

 

 

 

 

 

 


1

 

                    Keterangan :

                    1 = teras

                    Keterangan :

                    1 = teras

                    2 = ruang tamu

                    3 = kamar tidur

                    4 = ruang keluarga

                    5 = kamar tidur

                    6 = kamar tidur

                    7 = dapur

                    8 = kamar mandi/wc

 

 

  1. 1.      Karakteristik tetangga dan Komunitas RW

Hubungan keluarga Ny.R dengan tetangga berjalan baik. Tipe komunitas bersifat homogen, yaitu umumnya bersuku minang. Satu kali dalam sebulan dilingkungan tempat tinggal Ny.R diadakan gotong royong bersama tetangga untuk membersihkan lingkungan. Sebagian besar komunitas adalah penduduk pribumi dan hanya sebagian kecil penduduk pendatang. Sebagian besar  penduduk bekerja sebagai petani. Perumahan penduduk dilingkungan rumah Ny.R cukup padat, jalan yang digunakan  relatif aman namun jalanan disana cukup sepi. Pelayanan kesehatan yang ada berupa praktek bidan, dan puskesmas. Tapi Rumah sakit cukup jauh dari sana.

 

 

 

18. Mobilitas Geografis

Ny.R sudah 10 tahun menempati tempat tinggalnya sekarang, sebelumnya Ny.R ikut dengan ibunya yang bekerja ke Malaysia. Semenjak menikah, sudah 11 bulan Ny.R dan Tn.R menempati rumah tersebut. Namun Ny.R juga sering menginap di rumah mertuanya bersama suami.

 

19. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Tn.R dan Ny.R biasanya berkumpul pada malam hari bersama keluarganya, dimana seluruh anggota keluarga dapat berkumpul secara utuh setelah kesibukan pada pagi dan siang hari. Aktivitas yang dilakukan saat berkumpul di malam hari biasanya adalah makan malam bersama, dan menonton TV.

Hubungan keluarga Tn.R dengan  keluarga besar dari pihak Ny.R berjalan baik. 

Interaksi  masyarakat : keluarga Tn R dan Ny R  dapat berinteraksi baik dengan masyarakat di lingkungan rumahnya dan  Tn.R cukup aktif mengikuti perkumpulan dengan pemuda kampung dilingkungan tempat tinggalnya.

 

20. Sistem Pendukung Keluarga.

Apabila timbul masalah kesehatan, keluarga menggunakan sistem pendukung yang tersedia di lingkungannya seperti: praktek bidan lokasinya ±100m dan Puskesmas ±300 dari rumahnya. Keluarga Ny.R tidak memiliki ASKES untuk berobat ke pelayanan kesehatan.

 

 

IV. Struktur Keluarga

 

21. Pola komunikasi keluarga

Komunikasi antar keluarga cukup baik, terbuka, dan komunikasi  berjalan dua arah karna adanya musyawarah jika ada masalah dalam keluarga. Tidak ada pola komunikasi disfungsional yang ditemukan dalam keluarga. Dalam berkomunikasi keluarga menggunakan bahasa minang, keluarga tidak memiliki kesulitan bahasa dalam penerimaan pesan, dan frekuensi komunikasi dalam keluarga setiap hari dilakukan.

 

22. Struktur Kekuatan Keluarga

Pengendali keluarga adalah Tn.R sebagai kepala keluarga. Cara keluarga dalam mengambil keputusan adalah dengan musyawarah/ kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga dan setelah pengambilan keputusan, tidak ada permasalahan dalam anggota keluarga. Secara umum tidak ada yang mendominasi kekuasaan.

 

2.3 Struktur Peran   

  • Tn.R berperan sebagai suami bagi istrinya, dan kepala keluarga yang bertanggung jawab memberi  nafkah bagi keluarga. Menjadi orang tua bagi anak-anaknya dan juga teman hidup bagi istrinya serta pelindung bagi Ny.R.
  • Ny.R berperan sebagai istri dan ibu rumah tangga. Ny.R sangat menyayangi  dan  menghormati suaminya. Ny.R cukup bertanggung jawab terhadap urusan dapur dan merawat bayinya.

 

2.4 Nilai dan Norma Keluarga

Keluarga Tn.R  memiliki nilai dan norma dalam  membina keluarga seperti norma-norma yang berlaku dalam  masyarakat. Norma keluarga yang berkaitan dengan kesehatan adalah bila ada keluarga yang sakit segera diperiksa ke sarana kesehatan seperti puskesmas ataupun rumah sakit kadang  menggunakan  jasa pengobatan tradisional seperti  : Ny.R menggunakan sadah dan daun kacang panjang untuk memperlancar keluarnya ASI. Dalam kehidupan sehari- hari keluarga menjalani hidup berdasarkan tuntunan agama Islam.

 

V. Fungsi Keluarga

 

2.5 Fungsi Afektif

Ny.R mengatakan pernikahannya langgeng-langgeng saja dan Ny.R senang dengan pernikahan  yang  telah dijalaninya selama 11 bulan ini. Walau kadang masih ada perbedaan pendapat dan pertengkaran kecil namun masih bisa diselesaikan dengan baik. Ny.R mengatakan senang punya suami seperti Tn.R dan By.B serta Ny.R sangat sayang pada suami dan anaknya.

 

 

2.6 Fungsi Sosialisasi

Ny.R mengatakan bahwa ia dan suaminya hidup bersama dan saling menyesuaikan dengan lingkungan yang ada dan berinteraksi dengan tetangga. Keluarga Ny.R selalu menjaga hubungan baik dengan  tetangga mereka, jika ada tetangga yang sakit, pesta dan meninggal dunia, anggota keluarga Ny.R menjenguk dan ikut peran serta membantu tetangganya.

 

27. Fungsi Perawatan Kesehatan

Menurut  keluarga Ny.R sehat adalah apabila keluarga dapat melaksanakan seluruh aktivitas sehari-hari dengan baik tanpa ada gangguan. Sedangkan sakit adalah suatu keadaan dimana seluruh kegiatan tidak dapat dilaksanakan/ seluruh aktivitas sehari-hari tidak dapat dilakukan dengan baik dan optimal.

 

  1. A.    Diare

Pada saat pengkajian tanggal 1 oktober 2010 anaknya mengalami diare. Menurut Ny.D  Diare adalah  buang air  besar yang encer  dan  sering.Menurut Ny.D anaknya sudah mencret sebanyak 4x dalam sehari disertai muntah sebanyak 2x.

Penyebab dari penyakit  diare  menurut Ny.D adalah

  • Akibat makan – makanan sembarangan
  • Makan – makanan yang pedas
  • Makan – makanan yang asam (buah-buahan)

Menurut Ny.D  tanda dan gejala diare adalah:

  • Buang air besar encer
  • Anak sering rewel dan menangis akibat sakit
  • Nafsu makan anak berkurang
  • Minum cuman ½ gelas
  • Demam
  • Anus mulai lecet

 

Menurut Ny.D,dia  tidak mengetahui dampak lanjut dari diare.Keluarga Tn.Y sangat cemas dan takut melihat penyakit anaknya dan anaknya  tidak mau makan dan minum. Keluarga Tn.Y baru   membawa  An.A  ke rumah bidan  terdekat namun keluarga Tn.Y belum puas karna penyakit An.A belum  juga sembuh.

 

Ny.D mengatakan sejauh ini sudah merawat  An.A dirumah  dengan cara mengompres suhu An.A agar suhu tubuh  An.A turun dan memberikan  air garam gula sebagai pengganti oralit. Keluarga Tn.Y berusaha memberikan perhatian lebih pada An.A.

Ny.D mengatakan bahwa keluarganya selalu membersihkan lingkungan rumahnya dengan cara goro bersama anggota keluarga yang ada di rumah pada saat hari libur atau pada waktu tidak adanya kesibukan dari masing – masing anggota keluarga.Tempat pembuangan sampah terdiri dari tempat sampah kering dan basah yang telah di sediakan oleh pemerintah setempat dan setiap pagi sampah di jemput oleh petugas kebersihan. Namun Ny.D mengatakan tidak tau bagaimana lingkungan yang baik untuk penyakit diare.

 

Ny.D mengatakan bila timbul masalah kesehatan keluarga,keluarga menggunakan sistem pendukung yang tersedia seperti bidan,puskesmas  dan rumah sakit .Ny.D mengatakan melihat kondisi An.A yang masih diare,tampak pucat dan masih lesu. Ny.D mengatakan akan membawa An.A berobat ke Rumah sakit jika diare anaknya masih berlanjut.

 

28.  Fungsi Reproduksi

Keluarga Ny.R  memiliki 1 orang bayi lak-laki yang berumur 3 hari. Ia berencana cukup memiliki 2 anak. Saat ini Ny.R tidak memakai alat kontrasepsi. Ia ada rencana untuk memakai alat kontrasepsi, namun belum tahu alat kontrasepsi apa yang akan digunakannya.

 

 

 

 

29.  Fungsi Ekonomi  

Ny.R mengatakan dapat mengatur keuangannya dengan baik. Keluarga dapat memenuhi kebutuhan sehari – hari dan memiliki tabungan untuk masa depan dan keperluan yang tidak terduga.

 

VI. Stres dan Koping Keluarga

 

30. Stresor jangka pendek

Saat ini Ny.R mengeluhkan rasa nyeri pada jahitan di vaginanya dan kadang ia merasa lelah karena sering bangun saat tengah malam untuk memenuhi kebutuhan dasar bayinya.  Ny.R mengatakan saat ini ia kurang tidur karena merawat bayinya, selain itu ia mengeluhkan ASI yang sulit keluar dan jika di pompa hanya sedikit keluarnya. Tn.R tidak ada keluhan kesehatan. By.B saat pengkajian tampak agak kuning karena ASI yang inadekuat.

 

31. Stresor jangka panjang

     Saat ini Ny.R memikirkan bagaimana kuliahnya cepat selesai dan ia ingin membuat rumah sendiri bersama suaminya.

 

32. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap situasi/stresor

Terhadap stress  jangka pendek Ny.D mengawasi  makanan yang akan  di makan An.A dan segera memberikan obat apabila An.A diare. Sedangkan terhadap stress jangka panjang keluarga Tn.A sudah mulai menabung.

 

33. Strategi Koping yang digunakan

Keluarga menggunakan sistem dukungan sosialnya dari keluarga besarnya. Jika ada keperluan mendadak. Sedangkan jika ada masalah dalam keluarga, keluarga berusaha untuk menyelesaikannya secara musyawarah dan mendiskusikanya.

 

34. Strategi Adaptasi Disfungsional

Keluarga Ny.R tidak memiliki adaptasi yang disfungsional karena Ny.R dan anggota keluarga lainnya selalu terbuka terhadap semua persoalan yang dihadapi sehingga setiap masalah dapat dicarikan jalan keluar secara bersama-sama.

 

VII. Pemeriksaan fisik

 

 

 

No

Pemeriksaan Fisik

Tn. R

Ny. R

By. B

1.

Keadaan Umum

TB : 172cm

BB : 65 Kg

LILA:29 cm

TB : 167 cm

BB : 55 Kg

LILA:24 cm

TB : 100 cm

BB :12 Kg

LILA:15 cm

2.

Kepala :

Simetris, Benjolan (-)

Lesi (-)

Simetris, Benjolan (-)

Lesi (-)

Simetris, Benjolan (-)

Lesi (-)

 

  • Ø Rambut

Ikal, tidak rontok, dan tidak mudah dicabut, berwarna hitam.

Lurus, tidak rontok dan tidak mudah di cabut,berwarna hitam

Lurus,tidak rontok dan berwarna hitam

 

  • Ø Mata

Konjungtiva, tidak anemis, selera tidak iktenik, penglihatan baik

Konjungtiva: sub anemis

Sclera: tidak ikterik, penglihatan baik.

Mata cekung,air mata sudah mulai kurang,konjungtiva anemis.sklera tidak ikterik

 

  • Ø Telinga

Bentuk normal cerumen(-) pendengaran baik, sismetris

Bentuk normal cerumen  (-) pendengaran baik, simetris

 Bentuk normal cerumen  (-) pendengaran baik, sismetris

 

  • Ø Hidung

Polip (-), sinusitis (-), Lendir (-), Penciuman baik,  Simetris

Polip (-), sinusitis (-), Lendir (-), Penciuman baik,  Simetris

 

Polip (-), sinusitis (-), Lendir (-), Penciuman baik, Simetris

 

  • Ø Mulut

Lidah bersih, caries dentisc (-), Sariawan (-) gigi lengkap membrane mukosa lembab.

 

Lidah bersih, caries dentis (-), Sariawan (-) gigi lengkap, membrane mukosa lembab

Mukosa mulut/bibir kering.bibir kering.lidah ada bercak putih.terlihat bekas jahitan  bibir sumbing

 

  • Ø Kulit

Bersih,turgor kulit baik,suhu 36 c

Bersih,turgor kulit baik suhu 37,5oc

Turgor kulit agak jelek,akral  hangat 37,5 c

2.

  • Ø Leher

Tidak ada pembesaran kelenjer tiroid dan KGB

Tidak ada pembesaran kelenjer tiroid dan KGB

 

Tidak ada pembesaran kelenjer tiroid dan KGB

3.

Thorak

Bentuk simetris, tidak teraba benjolan, tidak ada lesi dan lecet

Bentuk simetris, tidak teraba benjolan, tidak ada lesi dan lecet, Adanya striae pada kedua payudara dan bagian abdomen

Bentuk simetris, tidak teraba benjolan, tidak ada lesi dan lecet

4

Sistem Pernafasan

Bunyi nafas vesikuler, RR = 24 x/i, retraksi dinding dada (-) penggunaan otot bantu nafas (-)

Bunyi nafas vesikuler, RR = 18 x/i, retraksi dinding dada (-) penggunaan otot bantu nafas (-)

Bunyi nafas vesikuler, RR = 24 x/i, retraksi dinding dada (-) penggunaan otot bantu nafas (-)

 

Sistem Cardivaskuler

TD : 120/90 mmHg

ND : 90 x/i,

IC tidak terlihat, irama teratur, bunyi jantung jelas

TD : 90/60 mmHg

ND : 80x/i,

IC tidak terlihat, irama teratur, bunyi jantung jelas

TD : 90/60 mmHg

ND : 100 x/i,

IC tidak terlihat, irama teratur, bunyi jantung jelas

4.

Sistem GIT

Bising usus normal BAB 1-2 x/hari

Bising usus normal BAB 2 x/hari

Distensi abdomen

BAB 3-5x/hari  bising usus 40x/i

5.

Sistem Genitourinaria

Tidak ada kelainan, BAK lancar, Frekuensi4-5 x/hari

Tidak ada kelainan, BAK  lancar,4-7 x/hari

Anus  lecet dan memerah,BAK frekuensi 2-3x/hari

6.

Sistem Muskulis

Ekstremitas tidak edema, pergelanangan dengan tidak nyeri pergelangan kaki tidak nyeri varises  (-) reflek patella (+)

Edema pada bagian dorsal pedis, pergelangan tangan dengan tidak nyeri pergelangan kaki tidak nyeri, varises  (-) reflek patella (+)

Ekstremitas tidak edema, pergelanangan dengan tidak nyeri pergelangan kaki tidak nyeri varises  (-) reflek patella (+)

 

VIII. Harapan keluarga terhadap petugas yang ada

Harapan keluarga terhadap masalah kesehatan yang dihadapi adalah agar masalah tersebut dapat teratasi dan keluarga dapat  melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik tanpa gangguan kesehatan.

Harapan keluarga terhadap kunjungan perawat keluarga adalah perawat keluarga dapat memberikan solusi yang tepat terhadap masalah kesehatan yang dihadapi keluarga dan membantu keluarga dalam mengatasi masalah tersebut selain itu dengan adanya kunjungan rumah tersebut keluarga berharap dapat menambah pengetahuan, mereka tentang kesehatan.

CONTOH ANALISIS DATA DAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

 

Analisis Data Tahap I

 

No

Data Penunjang

 

Masalah Keperawatan

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

DS:

–          Ny.R mengatakan bahwa sering terbangun pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan dasar By.B, seperti member ASI dan mengganti popok untuk By.B

–          Ny.R mengatakan bahwa karena ia sering terbangun di malam hari dia menjadi sulit untuk tidur kembali

 

DO:

–          TD: 90/60 mmHg

–          Konjungtiva: subanemis

–          Terdapat lingkaran hitam di bawah mata

 

DS :

–          Ny.R mengatakan bahwa putting susu nya kecil dan tidak menonjol

–          Ny.R mengatakan bahwa ASI nya susah keluar

–          Ny.R  mengatakan bahwa selama hamil tidak pernah melakukan perawatan payudara: pemijatan pada puting susu

DO :

–          Puting susu Ny.R tampak retraksi

–          By.B tampak agak kuning karena intake ASI yang inadekuat

 

Gangguan Pola Tidur b.d perubahan peran sebagai seorang ibu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pola Menyusi Tidak Efektif b.d retraksi puting

 

                                     

 

 

 

 

 

 


PROSEDUR PEMASANGAN CERVICAL COLLAR/COLLAR NECK

 

Pengertian

Pemasangan neck collar adalah memasang alat neck collar untuk immobilisasi leher (mempertahankan tulang servikal). Salah satu jenis collar yang banyak digunakan adalah SOMI Brace (Sternal Occipital Mandibular Immobilizer). Namun ada juga yang menggunakan  Xcollar Extrication Collar yang dirancang untuk  mobilisasi (pemindahan pasien dari tempat kejadian kecelakaan ke ruang medis). Namun pada prinsipnya cara kerja dan prosedur pemasangannya hampir sama.

 

Tujuan

  1. Mencegah pergerakan tulang servik yang patah (proses imobilisasi serta mengurangi kompresi pada radiks saraf)
  2. Mencegah bertambahnya kerusakan tulang servik dan spinal cord
  3. Mengurangi rasa sakit
  4. Mengurangi pergerakan leher selama proses pemulihan

 

Indikasi

Digunakan pada pasien yang mengalami trauma leher, fraktur tulang servik.

C collar di pasangkan untuk pasien 1 kali pemasangan. Penggunaan ulang C Collar tidak sesuai dengan standar kesehatan dan protap.

 

Prosedur

Persiapan

  1. Alat :

ü  Neck collar sesuai ukuran

ü  Bantal pasir

ü  Handschoen

  1. Pasien :

ü  Informed Consent

ü  Berikan penjelasan tentang tindakan yang dilakukan

ü  Posisi pasien : terlentang, dengan posisi leher segaris / anatomi

  1. Petugas : 2 orang

 

Pelaksanaan (secara umum):

ü  Petugas menggunakan masker, handschoen

ü  Pegang kepala dengan cara satu tangan memegang bagian kanankepala mulai dari mandibula kearah temporal, demikian juga bagian sebelah kiri dengan tangan yang lain dengan cara yang sama.

ü  Petugas lainnya memasukkan neck collar secara perlahan ke bagian belakang leher dengan sedikit melewati leher.

ü  Letakkan bagian neck collar yang bertekuk tepat pada dagu.

ü  Rekatkan 2 sisi neck collar satu sama lain

ü  Pasang bantal pasir di kedua sisi kepala pasien

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

ü  Catat seluruh tindakan yang dilakukan dan respon pasien

ü  Pemasangan jangan terlalu kuat atau terlalu longgar

 

Waktu pemakaian

Collar digunakan selama 1 minggu secara terus-menerus siang dan malam dan diubah secara intermiten pada minggu II atau bila mengendarai kendaraan. Harus diingat bahwa tujuan imobilisasi ini bersifat sementara dan harus dihindari akibatnya yaitu diantaranya berupa atrofi otot serta kontraktur. Jangka waktu 1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi nyeri pada nyeri servikal non spesifik. Apabila disertai dengan iritasi radiks saraf, adakalanya diperlukan waktu 2-3 bulan.

Hilangnya nyeri, hilangnya tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan indikasi pelepasan collar.

 

Unit pelaksana/terkait

  1. Instalasi Gawat Darurat
  2. Rekam Medik
  3. Radiologi
  4. I.P.S.R.

 

 

 

 

Bentuk Cervical Collar

     

 

Bentuk X collar

Image      

 

 

HARD CERVICAL COLLAR

Restrict Cervical Spine Movement to Promote Recovery
Latex Free, non Toxic and Hypo alergenic
Adjustable Bilateral velcro hook and Loop fastener insure proper fit

Bahan Plastozote foam mencegah iritasi kulit

Indikasi: Cedera Leher (Emergency), Wishplash Injury, Simple bone fracture, dislocated bone fracture, vertebra dislocated cervical; after cervical vertebra stretch treatment,cervical vertebra rheumatism joint inflammation caused bone dislocation risk, neck degenerate diseases etc.

SOFT CERVICAL COLLAR

Support Cervical
High Quality Foam
Removable
washable
Indikasi: Cidera Leher ringan (mild neck injury)

Image

Prosedur pemasangan X Collar (secara rinci)

Untuk posisi netral

  1. Sediakan  Xcollar
  2. Tarik, dan pastikan lebih panjang lalu buka lipatan sisi belakang
  3. Sebelum memposisikan X Collar ke leher pasien, lakukan resusitasi manual (imobilisasi leher) terlebih dulu
  4. Pegang X collar dengan 1 tangan dari atas punggung. X collar diposisikan sedekat mungkin dengan kulit atau punggung pasien. Hindari menempatkannya di lipatan pakaian
  5. Lingkarkan Ccollar diseputar leher pasien, hubungkan penyangga (depan leher dan belakang) lalu kunci
  6. Pas kan posisi C collar di sejajar garis dagu.
  7. Saat menepatkan posisi collar di dagu dengan tangan kiri, sesuaikan sisi-sisi straps. Gunakan tangan kanan untuk memundurkan velcro sebelah kiri pasien
  8. Sesuaikan sisi-sisi strap dan velcro sebelah kanan pasien. Agar memastikan kanan dan kiri simetris atau tidak maka gunakan kode warna sebagi skala pengalokasian di masing-masing sisi collar
  9. Pada pemasangan vertikal, pegang sisi dagu dengan jari-jari untuk menekan tombol kuning biru diatas agar menyesuaikan dengan dada pasien, disebut juga dengan ACS (Adjustable Chest Support)
  10. Pastikan c collar terletak dalam posisi netral pada leher
  11. Kunci ACS dengan menekan tombol kunci kiri dan kanan
  12. Untuk melengkapi aplikasi prosedur dan meningkatkan pemulihan pasien, maka strap X diagonal dipasang. Sambil menahan sisi kiri ACS dengan tangan kanan, Dorong sisi kiri strap X keluar dengan tangan kiri. Pastikan tepat pemasangannya
  13. Lanjutkan pemasangan strap X ke sisi kanan pasien secara diagonal tepat pada bagian sisi velcro  yang sewarna dengan warna X trap.
  14. Lengkapi strap X bagian kanan pasien dengan prosedur yang sama dengan strap X sebelumnya dengan warna berbeda.
  15. Gunakan tangan kanan untuk mendorong plester dan memegang sisi kana strap X
  16. Untuk posisi nyaman

Langkah pertama sama pada gambar 1 sampai 6, untuk selanjutnyaPenyesuaian Strap dengan memutar sedikit kepala pasien ke sisi kanan, setelah itu geser sisi velcro sebelah kanan pasien

Begitu juga dengan sisi kiri pasien dengan metode yang sama dengan sebelumnya

   

Sesuaikan jarak strap depan pada bagian dagu

kunci ACS dengan menekan tombol biru kuning

Pasang strap X mulai dari kanan pasien terlebih dulu (terdekat dengan leher bag. depan

Pegang/ tahan penyangga velcro sebelah kanan pasien sementara tangan kanan memfiksasi strap X ke bagian kiri pasien

Ulangi prosedur sebelumnya

Sama dengan yang sebelumnya

    

 

Untuk posisi supine:

  1. Pada posisi supine, cara yang sama, dengan menmpatkan Back Support ke bagian belakang leher pasien
  2. Letakkan mulai dari bagian atas ketika menyelipkan BS. Untuk selanjutnya sama dengan posisi netral sebelumnya

    

 

Melepas X collar:

  • Untuk melepas Xcollar, pertama-tama lepaskan kedua straps X 
  • Sebelum membuka penyangga, perlahan-lahan lepaskan tekanan velcro Xcollar
  • Buka buckle dan lepaskan collar dari pasien 

REFERENSI

 

http://www.xcollar.com/applicationmanual.php?page=4

http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/pus-1.htm

http://nursingbegin.com/pelatihan-btcls/

http://www.kuspito.com/index.php/list-produk-kami/95-soft-cervical-collar-/?Itemid=16&option=com_content&id=95:soft-cervical-collar-&view=article&layout=default&zmien_font=mala

Saanin, Syaiful. 2009. Cedera Sistema Saraf Pusat Traumatika Dan Nontraumatika. PDF Jurnal. Diakses tanggal 27 Februari 2012.

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Awan Tag